Mawar Putih
Tanaman merupakan makhluk tuhan yang aneh. Pernah
aku memetahkan tangkainya, yang pastinya secara tidak sengaja. Aku hanya
memberikanya ke genangan air, aku kira dia tidak akan bertahan. Tetapi aku
salah, dia tetap hidup bahkan ia mempunyai akar yang membuatnya menjadi
tumbuhan baru dan memberikan senyuman baru untukku. Sejak saat itu, mimpiku
menjadi seseorang yang menjadi pelindung mereka.
“ Mawar” kata temanku, Ima. Dia adalah temanku yang
long lasting sejak kita SD. Bisa dibilang kita seperti sepasang, tapi bukan
sepasang kekasih. Artinya disitu ada Ima itulah aku berada.
“ Ya?”
“ Kamu kapan mau mandi? Ini udah jam setengah7,
nanti telat lagi. Apalagi sekarang yang ngawas Bu June” Kata Ima marah-marah.
Tentu saja dia marah-marah, karena guru paling galak disekolah menjadi pencegat
murid yang dating terlambat.
“ Iya, iya. Tapi nih, tolong ambilin ulat yang makan
daun murbeyku” kataku menunjuk tempatku berdiri tadi, seraya memberikan sumpit
kepada Ima
“ Ihh… mingkin ini ulat sutra, war” katanya menuding
ulat itu. Aku tahu dia sangat membenci ulat, karena dia pernah kejatuhan ulat
di kepalanya. Lucunya waktu itu.
“ Bukan tuh. Itu berwarna sedangkan ulat sutra
warnanya putih, gendut lagi” kataku lalu masuk kerumah. Sempat aku melihat
wajah Ima yang jijik disertai takut. Aku hanya mandi selama 5 menit dan
berganti pakaian 3 menit, sedangkan jadwal hari ini sudah aku siapkan dari tadi
malam.
“ Sudah ambil ulatnya, ma?” kataku dengan mengunci
pintu lalu melihat Ima yang masih berdiri mematung. Wajahnya sedikit pucat,
akupun menghampirinya dan mengambil sumpit ditangannya. “ Ma?” dia masih diam,
aku mengerti itu. Akupun membuang ulat itu dan menarik tangan Ima.
Namaku Mawar Putih, umur 16 tahun yang pastinya
masih SMA. Aku tinggal sendirian dirumah sederhana yang memiliki taman yang
cukup luas. Hampir semua jenis tanaman aku tanam disana dan merawat mereka
adalah hobiku. Kamipun sampai disekolah hampir telat. Syukurlah kaki kami sudah
menapak di pintu kelas.
“ Pas” kataku dan Ima hampir bersamaan.
“ Wahh… kalian masih sama-sama?” Kata Ran, yang
menyebalkan. Orang paling jahil seantero jagad raya. Entah mengapa sejak kami
sekelas dia sering mengganguku dan Ima.
“ Maksudnya?” Kata Ima menjawab, aku memang bosan
meladeni anak satu ini. Tapi, entah mengapa Ima tidak ada capek-capeknya
meladeni Ran bersaudara.
“ Enggak bosen gitu antara satu sama lain?” Kata
Ray, saudara kembarnya yang sama-sama jahil. Aku heran siapa orangtua yang
membesarkan mereka hingga menjadi anak yang nakal?
“ Namanya juga sahabat. Enggak kata bosan, apalagi
kalu kalian sahabatnya Mawar! Setiap hari dia nyuruh aku ngambilin ulat yang
aku benci. Lalu setiap hari aku mematung dan selalu digeret sama tenaga super
powernya Mawar” kata Ima dengan gayanya yang lebay. Well itu biasa.
“ Lalu? Sahabatmu saja sudah duduk dari tadi” kata
Ray dan Ran bergantian. Seluruh kelaspun tertawa, wajah Ima terlihat kesal dan
berjalan berat ke arahku.
“ Mawar!” katanya dengan mukanya yang cemberut.
“ Udah, diemin aja mereka” kataku santai. Mungkin
karena itu, Ima jadi makin mangkel sama aku. Memang ya, kalau kita tidak telat
ada saja masalah dikelas ini.
“ Huft” katanya lalu dia duduk disampingku dan
menatap jendela. Hal yang biasa kalau aku meliatnya, dan aku yakin dia akan
memaafkanku lagi.
“ Morning Students” kata Bu Bell, guru Bahasa
inggris kami.
“ Morning ma’am” kata seluruh kelas, termasuk Ima
walaupun suaranya kecil.
“ We have a new student today, come here” seketika
kelaspun gaduh, lalu datanglah seorang anak laki-laki yang cerah. Well, aku
bilang cerah karena dia pernah aku lihat. Ya, dia menjadi salah satu kandidat
cowok ganteng tahun ini. Bukan hanya ganteng tapi dia juga punya bakat. “ His
name is…”
“ Kenan Hadi!” kataku dengan berteriak.
“ Yes Mawar, thank you” kata Bu Bell, sedangkan
Kenan hanya tersenyum kepadaku. Oke, siapa yang mau tahu tentang Kenan Hadi?
Dia seorang yang tampan-menurutku- dan seorang aktivis lingkungan, dia juga
seorang yang pandai tentang tanaman. Lalu Kenan duduk disampingku, OMG!
“ Umm… Kenan, namaku Mawar” kataku dengan mengulurkan
tangan, diapun menjawab uluran tanganku lalu tersenyum ramah.
“ Iya, aku tahu”
“ Kok bisa?” mana mungkin aku terkenal karena
tamanku kan?
“ Tadi Bu Bell bilang nama kamu kan, Mawar?”
“ Iya” kataku malu dan melihat pelajaran Bu Bell,
namun terkadang aku melirik Kenan. Aku senang sekali hari ini.
“ Mawar?” Kata Ima melihatku, walaupun masih
menempel dimeja.
“ Ya?”
“ Kamu kehilangan ke-coolanmu. Kamu jadi bukan mawar
yang aku kenal lagi”
“ Kan kamu bakalan sedikit berubah kalau… ketemu
idola” kataku ngeles. Mungkin ini bukan waktunya untuk cerita ke Ima. Semenjak
aku melihat Kenan 2 tahun lalu. Aku menjadi idolaku sekaligus cinta pertamaku.
Ima mengangkat kepalanya dan menudingku“ Alah, aku
tahu kok. Aku pernah liat foto dia dikamar kamu”
“ Ihh… apaan sih” aku tidak tahu, apa muka yang aku
buat saat itu. Aku hanya merasa malu untuk beberapa saat.
“ Ciee… akhirnya aku bisa lihat wajah kalau jatuh
cinta, war” katanya menggodaku
“ Hehe”
“ Lumayan juga” kata Ima dengan memandang Kenan yang
sedang diajak bermain oleh anak laki-laki. Mungkin dia membutuhkan itu.
“ Jangan kamu tikung akunya” aku melihatnya dengan
muka yang dibuat kesal dan dia memasang wajah yang sedikit masam seperti bilang
‘kamu mencurigaiku?’
“ Iye”
“ Halo?” kataku setelah mendengar dering telephone.
Beruntung aku baru didalam rumah sedang beres-beres.
“ Put?” aku mendengar suara wanita yang aku kangeni
saat ini. Mamaku! Hidup sendiri bukan berarti aku tidak mempunyai siapapun.
Mama dan papaku hanya berkerja di luar negeri karena gaji disana lebih besar.
Apalagi kalau ayah harus dipindah tugaskan. Aku pastinya menolak untuk pergi
kenegeri orang yang asing.
“ Mama, ada apa?”
“ Kamu mau kapan kesini? Mama kan kangen sama kamu.
Taman disini udah enggak terawat lagi sejak kamu kesini 2 bulan lalu” kata mama
dengan nada yang meyakinkan. Mungkin benar, karena mama dan papa tidak punya
waktu untuk mengurusi taman. Bahkan mereka kadang-kadang saja menelphoneku.
“ Habisnya mama di New Zealand, kan jauh sama
Indonesia”
“ Kan bisa ambil pesawat” kata mama, kita mungkin
tidak bisa dihenrika sekarang. Kalau berdebat kami bisa 1 minggu lamanya. Walaupun
masih dengan kegiatan kita sehari-hari, kecuali ada salah satu yang mengalah. Sayangnya
kami sama-sama keras kepala.
“ Belum libur mama”
“ Bolos aja”
“ Pendidikan lebih penting”
“ Yaudah, kamu belajar disini aja”
“ Aku kurang fasih Inggris”
“ Bisa cari guru les”
“ …” nah, sekarang aku bingung mau menjawab apa. Kalau
bilang malas, nanti…
“ Put? Gimana? Kamu masa’ enggak kangen sama mama
dan papa sih?” kata mema dengan nadanya yang meninggi. Mungkin ini adalah
jawaban yang terbaik, jawaban yang paling mama tidak bisa jawab.
“ Puput kangen mama sama papa. Tapi, puput udah
betah disini udah seneng disini”
“ … Yaudah deh, mama ngalah. Tapi janji kalau kamu
udah enggak betah lagi kamu harus kesini” kata mama mengalah, akupun tersenyum
namun juga sedih karena mengecewakan mama yang sangat aku sayang.
“ Iya, love u ma”
“ Love u too, my darling puput” kata mama, akupun
terdiam seraya meletakkan gagang telephone ketempat aslinya. Apa aku harus
kesana ya? Ahh… belum! Karena ada idolaku Kenan Hadi. Suatu hari nanti ma, aku
pasti ke New Zealand!
Hari ini aku piket, entah mengapa Ima tidak datang menjemputku
hari ini. Aneh sekali! Akupun melihat Ima dan Kenan dekat bahkan tertawa berdua,
apa yang mereka lakukan?
“ Wah… sahabatmu nikung ya?” kata Ray dengan
membisikannya ditelingaku.
“ Kasihan sekali” Kata Ran menimpali. Sakitnya
perasaan ini, sudahlah! Senyum Mawar, senyum! Semangat!
“ Ima, aku piket dulu ya” kataku setelah menghampiri
Ima. Dia duduk dibangkuku yang dekat dengan Kenan, kenapa ya hari ini? Apa aku
ulangtahun hari ini? Tapi sepertinya tidak.
“ Iya”
“ Tasmu disitu?”
“ Enggak boleh?”
“ Hakmu sih” kataku lalu mengambil sapu yang berada
di belakang kelas. Haa.. apa aku harus mengakhiri perasaan ini, demi Ima?